Untuk memenuhi syarat tugas non kelas mata kuliah Pemrograman Berorientasi Objek, saya mengikuti 2 seminar yakni 1 IT dan 1 non IT.
Seminar IT yang saya ikuti yakni:
Seminar Nasional "Kapitalisasi Media Digital Sebagai Agen Pembentuk Pola Pikir Masyarakat". Seminar ini diadakan di aula Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan pembicara Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Rudiantara dan Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Seminar ini diadakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017.
Semonar non IT yang saya ikuti, yakni:
Seminar dan Bedah Buku "Tionghoa Dalam KEINDONESIAAN". Seminar ini diadakan pada 16 Mei 2017 di Sengkaling Convention Hall Malang.
Diary Suporter Cadangan
Rabu, 14 Juni 2017
PERSELA, Menegaskan Identitas Kami
Banyak peristiwa yang terjadi dalam sepakbola. Ada peristiwa yang sengaja dimunculkan berulang-ulang, ada juga yang berusaha dilupakan, dan sebagian lagi ada yang mengendap di dalam memori. Ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang ada dalam sepakbola bisa menjadi kejam ataupun menyenangkan, tergantung bagaimana sejarah dimaknai atau dihayati. Sejarah akan terus dimaknai, dihayati, dan terdokumentasi. Oleh karena itulah pentingnya sebuah buku terutama buku tentang sepakbola untuk mendokumentasi, menghayati, dan memaknai sejarah-sejarah dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dunia sepakbola.
Miftakhul Fahamsyah sebagai orang asli Lamongan, mencoba mengutarakan apa saja peristiwa yang terjadi dalam tim sepakbola dari daerah asalnya yakni Persela Lamongan melalui buku ketiganya yang berjudul: Persela, Menegaskan Identitas Kami. Perjuangan Persela mulai dari kasta terendah hingga kini moncer di papan atas kompetisi tertinggi di negara ini, dituliskan oleh Mifta Fim, panggilan akrab Miftakhul Fahamsyah, dalam buku ini.
Lewat buku ini, orang Lamongan seperti ditegaskan benar identitasnya sebagai orang Lamongan. Identitas yang sudah terlalu lama tenggelam dalam bayang-bayang kebesaran Kota Surabaya dengan Persebaya-nya yang memang hanya berjarak tidak lebih dari 50km dari Kabupaten Lamongan.
Membicarakan Persela Lamongan lebih jauh memang tidak terlepas dari peran Mantan Bupati Lamongan, Masfuk. Bupati yang saat itu masif menggelontorkan dana APBD untuk Persela Lamongan.
Tindakan tersebut dinilai banyak orang sebagai tindakan yang gila. Namun, jika dilihat sekarang tindakan tersebut sejatinya memang mampu menaikkan harkat martabat orang Lamongan.
Bisa dibilang sebelum adanya Persela, Lamongan mempunyai masalah dengan identitasnya sebagai orang Lamongan itu sendiri. Orang Lamongan yang banyak merantau di daerah lain, enggan jika ditanya asal daerahnya. Mereka lebih memilih menjawab berasal dari Surabaya karena saat itu nama Lamongan tidak begitu di kenal di Indonesia ini. Hal ini juga pernah saya alami saat saya masih SD. Ketika itu, saya sedang mudik ke rumah mbah saya di Jogja. Saat di Jogja, saya ditanya oleh tetangfga Mvah saya, asalnya darimana? Saya jawab Lamongan. Si pemberi pertanyaan seperti asing mendengar nama Lamongan. Dia bertanya lagi kepada saya, Lamongan itu mana? Daerah Semarang? Setelah saya bilang Surabaya, baru tetangga Mbah saya ini paham.
Oleh karena itulah, gebrakan yang dilakukan Bupati Masfuk dengan membangkitkan kembali Persela yang telah mati suri di awal dekade 2000-an itu sebenarnya adalah upaya membangun hegemoni orang Lamongan.
Setelah perlahan-lahan Persela mulai naik ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia, orang Lamongan yang banyak merantau ke seluruh pelosok Indonesia, entah berdagang pecel lele atau soto Lamongan, mulai bangkit semangat kedaerahannya. Orang Lamongan yang sebelumnya terlampau sering percaya diri menyebut dirinya orang Surabaya, kini dengan PD-nya menyebut dirinya orang Lamongan.
Pada bab ke-2 ini tertulis dokumentasi sejarah panjang suporter tua Lamongan, L.A Mania. Seperti tertuang tentang krisis identitasnya tadi, banyak orang Lamongan di zaman sebelum bangkitnya Persela adalah pendukung militan Persebaya Surabaya.
Banyak orang Lamongan berduyun-duyun menonton Bajul Ijo berlaga di Gelora 10 November, Tambaksari termasuk Bapak saya dulu. Karena apa?
Mungkin bisa jadi adalah karena Lamongan saat itu tidak memiliki klub sepakbola yang pantas didukung. Dari sejak lahirnya Persela pada 18 April 1967, baru pada 27 Januari 2001 muncul suporter resmi Persela yang berjuluk LA Mania. LA sendiri merupakan akronim dari Lamongan Asli.
Membicarakan Persela, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut julukan Persela itu sendiri, yaitu: Laskar Joko Tingkir. Maskarebet (nama kecil Joko Tingkir) merupakan raja pertama kerajaan Pajang yang terletak jauh di Kota Surakarta. Lamongan dan Surakarta sendiri berjarak kurang lebih 250-an kilometer.
Menjadikan Joko Tingkir sebagai julukan Persela ternyata sejarahnya adalah ditemukannya makam Joko Tingkir di Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan. Tangan dingin Bupati Masfuk yang menjadikan Laskar Joko Tingkir sebagai julukan Persela.
Dengan membaca buku ini, saya tidak lagi bertanya-tanya kenapa kok bisa Persela memiliki julukan Laskar Joko Tingkir, padahal yang saya tahu, Tingkir adalah nama terminal di daerah Salatiga yang jaraknya sangat jauh dari Lamongan.
Malam minggu di Manahan adalah kenangan yang sepertinya tidak bisa dilupakan oleh segenap pencinta Laskar Joko Tingkir. Manahan, stadion yang terletak di Kota Solo itu merupakan stadion yang bersejarah bagi Persela Lamongan.
Persela mampu promosi ke Divisi Utama setelah menahan cemas ketika skor imbang tanpa gol menghinggapi Persela melawan PSIM Yogyakarta.
Perlu diingat bahwasannya saat itu banyak orang Lamongan berbondong-bondong ngluruk ke Solo. Wong Lamongan bersatu untuk pertama kalinya melakukan awaydays, mendukung Persela agar selanjutnya identitasnya sebagai orang Lamongan ditegaskan.
Dilanjutkan pada bab-bab selanjutnya bahwa Persela terus dipertegas juga diperteguh identitas ke-Lamongan-annya. Pergantian kursi kepelatihan, penghuni baru tribun utara, kesetiaan sang kapten Choirul Huda, putra daerah berseragam Garuda, hingga musim yang indah bersama alm. Miroslav Janu turut mewarnai buku setebal 91 halaman ini.
Patut diingat bahwasannya Persela adalah satu-satunya klub kabupaten yang mampu bertahan selama 13 tahun di kasta tertinggi Liga Indonesia.
Entah patut disebut sebagai tim medioker atau semenjana, Persela yang mampu terus bertahan bereksistensi di Liga 1 merupakan prestasi yang tidak bisa dianggap remeh. Dari 2004 hingga sekarang 2017 bukanlah waktu yang sebentar untuk satu tim kabupaten bertahan di Liga Indonesia yang kejam ini.
Laskar Joko Tingkir juga punya prestasi lain, yaitu juara Piala Gubernur Jawa Timur 5 kali yaitu pada tahun 2003, 2007, 2009, 2010, dan 2012. Kolektor piala terbanyak ajang turnamen pra musim se-Jatim, bersanding dengan Persik Kediri.
Selain itu, di level juniornya yaitu Persela U-21. Mampu juara di musim 2010/2011 yang dipertahankan 2011/2012 semakin mempertegas bahwasannya Lamongan mempunyai kultur sepakbola yang begitu tinggi. Musim lalu, Persela U-21 yang diasuh eks Pelatih Persela Didik Ludianto pun juga beroleh posisi 4.
Pada 18 April 2017 lalu, Persela genap berusia 50 tahun. Buku ini merupakan kado yang indah dari Miftakhul Fahamsyah kepada Persela yang memasuki usia emasnya.
Selamat memasuki usia emas, Laskar Joko Tingkir! Semoga prestasi yang diraih juga seperti emas yang selalu berkilau.
Senin, 13 Juni 2016
Menjadi Suporter Garis Cerdas
Dulu bagi saya mendukung Persela adalah panggilan jiwa walaupun nyawa taruhannya.
Awaydays ke kandang rival mulai dari Gelora Bung Tomo sampai Si Jalak Harupat...
Awaydays ke kandang rival mulai dari Gelora Bung Tomo sampai Si Jalak Harupat...
Awaydays Bali (part 1)
Awaydays, mungkin bukan hal aneh di dunia persuporteran tapi bagai orang awan mungkin ini suatu kata yang jarang terdengar. Awaydays sendiri adalah suatu kegiatan mendukung tim kebanggaan di kandang lawan. Bagi suporter fanatik, mendukung tim kebanggan di kandang sendiri tidaklah cukup, karena tim tidak cuma butuh dukungan saat main di kandang sendiri tapi juga saat bermain di kandang lawan.
Langganan:
Postingan (Atom)












